Pages

Selasa, 10 April 2012

mengukir jejak

kita duduk termenung dibawah temaram lampu
bersandar pada dinding bisu
menatap rinai hujan

sesekali
potongan kata hadir usir sepi yang mulai menyelimuti
namun, ia tetap tak kunjung reda

biarlah diam, bisa jadi lebih baik
dan membiarkan katakata berdetak
sambil menebak jawabnya

atau mungkin kita terlalu malu
jadinya hanya diam
seperti bukan juga

ku tahu tenggorok begitu kering
lidah terasa kelu

masihkah kita kembali memenuhi halaman kosong
dengan mengukir setiap jejak
memberikan tanda pada setiap lankahlangkahnya
dan biarkan warna hadir dengan sendirinya
diam kembali menutup ruang

dan kita menanggalkan tempat
melangkah pada air mengenang
terimakasih kau telah singgah
menunggu kopi hitam dingin
Jelang subuh kampoeng utan,11/4

Perempuanku

kupandangi dalam sebuah bingkai kian usang
jalanya waktu tak mengubah adanya

sekarang kau tahu, kenapa aku berharap bertemu
hanya untuk satu alasan yang kumiliki
menatap puas matanya, menuguk setiap deraiderainya
berharap lancarkan tenggorakan
dan lihatlah diriku ini

atau lihat di luar sana, air turun bebes
yang menjadikan aku begitu iri padanya

Dan, sudalah
biarkan saja
lagian, tak ada siaran ulang

untuk saat ini,
berjalan menuju altar
ritual persembahan telah dibuat sedemikian rupa
namun, kenyakinan ini tak akan pernah cukup
dan entalah, apakah ini ampuh






Kamis, 13 Oktober 2011

di sebuah titik

pada titik itu, kita bertemu
di tepianya kita menatap senja
dan kita terasa begitu dekat, sangat dekat
harapan merajut pada waktu, agar tak mudah terlarut
sehingga kita bisa lebih lama meneguknya
sayang, kita pun tau tak ada yang kuasa atasnya

seiring lenyapnya, kita dipaksa menanggalkan tempat itu
mempertanyakan dengan penantian pada titik itu akan mempertaukan kembali
menatap kembali senja
dan membiarkan angin menyibak rambutmu

ataukah
membiarkan semuanya menguap begitu saja
berubah menjadi butirbutir yang kita nikmati masingmasing di balik tirai
dengan memandang titik yang kian curam dalam deburan ombak terus menghantam
meski kita tahu
bahwa ini bukan hendak kita

Rabu, 12 Oktober 2011

digadai


adalah sepi yang tercabutnya ramai, tapi aku sedang berada di pasar


membiarkan tubuh tercabikcabik elang


berteriak menangis sejadijadi layaknya bayi


tak ada jawaban atas segenap pertanyaan


hanya melampirkan


secarik cerita mengadu tempat pegadaian


agar kugadaikan tubuhku


lalu berlari dan terus berlarilari


tak ada kata, tak ada tawa, tak ada tangis


semuanya melenyap dipermukaan


_________”___________


akhirnya kau datang juga


bawa sana,


lelah ku menyimpan tubuhmu


aku lemparkan ke laut, ikan menolaknya


di kubur, cacing pun menolak


demikian juga para penjagal daging


“NAJIS, HARAM, JADAH”


_____________________”________________


ku pandangi tubuh yang terdampar begitu saja


matanya terlihat tajam seperti hendak menyampaikan pesan, namun tenggorakannya seperti tersendat


siapa yang hendak menerima tubuh


Sebuah Catatan Terasing

Jumat, 02 September 2011

di tepi sana, kita menatap senja
dan berharap waktu tak mudah terlarut
sehingga kita bisa lebih lama meneguknya
sayang, kita pun tau tak ada yang kuasa atasnya

seiring lenyapnya, kita dipaksa menanggalkan  tempat itu
akankah kita akan ada sana kembali
menatap
membiarkan langit menyibak rambutmu


Senin, 29 Agustus 2011

aku terdampar begitu saja
tanpa sehelai benangpun
hanya tertutup dengan jeritanjeritan
menderai air mata

lalu benangbenang menutup kian tebal
hingga tak tahu mana yang benarbenar benang
dan kini, aku berharap dapat mengurai benangbenang tersebut
hingga tak ada lagi benang menutupku dihadapanMu
dengan deraian air mata

tapi, bagaimana caranya
anugrahMu telah aku gunakan untuk
merajut hati ini
membuatku kian tebal dihadapanMu


Minggu, 28 Agustus 2011

Ajakan Secangkir Kopi

saat ini, cukup bagiku tersaji secangkir kopi hitam
berserta rokok
nikmati dalam dinginnya malam
sambil menatap langit,
sayang tak ada bintang

apakah kau bersedia menikmatinya bersama
dan kita akan melahap setip katakata
sebagai penghias malam
walau katakata tak seindah para penyair
dan aku bukan pembuat sajak sepotong senja untuk kekasasihku
aku hanya pecinta kopi, yang memintamu untuk ikut menikmati

tak perlu kau risaukan tentang hari esok
sebab tanpa dinanti pasti akan datang jua
lalu kita tinggal mencipatkan jejakjejak
walau harus mengulang jejakjejak
dan ini adalah jejak kita, bukan jejak mereka
sebab aku, kamu, dan mereka mempunyai jejaknya yang telah diukir masingmasing




Jumat, 26 Agustus 2011

tibatiba gelap

di pantai itu, ia hanya duduk
menatap langi pekatpekat
sudah tak terhitung berapa lama
tak peduli pancaran sinar
deburan ombak saling mengejar tak henti menerpa karang

bagiamana seketika karang pun hancur
ombak merasa lelah
dan tibatiba langit menghitam

tak terdengar deru ombak
tak ada lagi cerah langit
hanya hening nan gelap


Selasa, 23 Agustus 2011

belum ada judul

bukan untuk berbagi
atau mengaduh pada nasib
yang berharap pada iba

hanya berlari meninggalkan perih
sebagai balasan terhadapa kepengecutan
terus berlari meninggalkan jejakjejak yang menghantui
dan hantuhantu terusa saja tertawa riang

lalu bagaimana mungkin aku dapat berdiri di puncak
jika aku masih saja tak kuasa menata ulang
serpihanserpihan yang telah melebur
bahkan terukurai

jika saja memang benar adanya
lalu apakah aku akan bersandar padanya
sedangakan untuk menyebut namanya pun
aku malu

sebab aku hanya mempermainkannya
dengan segala janjijanji yang tak pernah terwujud
bahkan aku dengan bangga mengikari atasNya

dan saat ini, biarlah aku berlari
mukin dengan jalan yang bukan kau ridhoi
walau aku tak kuasa untuk melangkah








Minggu, 21 Agustus 2011

asap hitam

nafasnafas saling berburu
meyibak rasa gundah terus menekan
menyeksakan dada
hendak kuganti penghuninya
kupicu langkahku
namun, nafasnafas semakin memburu
kusandarkan padanya hanya angin yang terasa sesaat
lalu nafasnafas itu tetap saja memburu
tak ada tempat, semuanya sama
dunia telah menjadi kupalan asapasap hitam
yang selalu saja membuatku dadaku sesak

Jumat, 19 Agustus 2011

hanya sampah

aku mencarinya
lalu memungutnya
untuk ditambal pada lembaran yang bocor

lalu kulemparkan kembali kata itu pada tong sampah
semua kata layaknya sampah
apakah pikiran ini yang sampah
sehingga tak tau kata yang mana


jika benar bahwa sebuah tulisan adalah sebuah ekpresi
ekpresi dari apa yang dirasakan
aku tak tahu apa rasanya
yang tahu aku sedang berjalan entah kenama dengan rasa takut

teruntuk
orang melalui spermanya aku terlahir
izinkan aku mencari sesuatu yang masih kupertanyakan
tak usah kau risaukan

dan tertuntuk yang tak terjangkau, sampaikan rinduku pada perempuan yang dari rahimnya aku terlahir
tempatkan dia di tempat terindah

untuk yang selama ini selalu menemaniku,
tak ada kata yang terlahir
semua kata terasa habis terbakar
dan hanya menyisakan sebuah huruf yang menyalin sebuah namamu.




Minggu, 26 Juni 2011

Karangpun lebur

Seberapa banyak langkah itu hanya putaran waktu saja
dan pada akhirnya akupun terkapar
sebelum semua usai
akan kugoreskan warna
walau kukenal hanya hitam dan putih
selakyaknya permainan ada kalah dan menang
dan sang pencipta berdiri kokoh menykasikan orangorang yang menjadi gila
lalu sebagaian orang membunuhnya dengan menciptakan Tuhan-Tuhan baru
agar menjadi pemenang
sedangkan aku berdiri menatap ombak yang tak lelah menghamtam karang
terasa pilu lalu semuanya akan melebur
dengan sesuatu yang belum terjawab
(ciputat 25/6)

Kamis, 23 Juni 2011

memang tak ada sesuatu
tapi semua masih terekam dengan jelas
guratan-guratan yang
selalu mengajakku untuk memasukinya
tarikannya begitu kuat

walau waktu melaju dengan cepat
yang kemudian menutup dan siap membuka cerita baru
hingga berlembar-lembar cerita
memang rasa ini terbalut dengan senang, sedih, suka, duka atau mungkin hal-hal yang lebih semu
namun, cerita indah akan selalu mempunyai tempat tersendiri
kaupun tentunya mengetahuinya
bahwa adakah cerita lebih indah melibihinya

Rabu, 15 Juni 2011

kampung mati

hanya taman ilalang liar
mengabiskan sisasisa kandungan
rasa panas terserap malalui telapak kaki
maklum hujan tak kunjung singgah

orangorang mulai berpikir
tentang Tuhan
segala ritual telah terhadirkan
dan mengutuk yang namanya kemarau

sungai hanya segores cerita lama
seperti hanya perkampungannya
begi pula dengan orangorangnya


sesungguh air telah berpindah tempat

Minggu, 12 Juni 2011

di persimpang jalan,
menatapnya
hanya membuat pilu
teruma saat tersenyum
saat tertulis dalam catatan harian bahwa hidup adalah tragedi

kau hanya pantulan wajahku
dan kau pun hanya pelengkap
dari hitam dan putih

memang angin masih berhembus
dan senyum masih terhias pada langkahlangkah
malam ini
esok
malam
dan esok
langkah yang mana

simpang jalan ini,
kau dan aku menuntut atas takdirnya

Rabu, 08 Juni 2011

Sayup basah masih terasa
Saat rintik hujan lembut belai bumi
Bunga tumbuh dari bongkahan batu
Ilalang menjulang meneteskan sisa hujan
Tapi, sayang.........................................
tak ada secangkir kopi hitam menemaniku.
hehehe

Selasa, 31 Mei 2011

mendengkur

mendengarnya
terasa begitu nikmat
iri padanya
sambil berharap
andai saja saya bisa……………..
tentunya sekarang saya ada di hotel
sambil berpuas diri untuk mendengkur
bukan di ruangan ini, dan selalu bertarung dengan nyamuk
membuat malamku terasa menyiksa
dan badanku terlalu sulit untuk gemuk

saat menjelang pagi

Kamis, 26 Mei 2011

Melawan Sepi

Kunikmati secangkir sisa kopi hitam kental
begitupula dengan rokok
setelah semalam kugeluti keduanya

malam mengantarkan aku pada kerinduan tentangmu
akupun mencari jawaban atasnya
pada terminal yang terdengar hanya suara deru mesin
lari ke pasar didapati suara menjajakan barang
radio dengan suaranya
TV menatap penuh hampa

Kuukir sebuah nama pada pasir yang terdengar deru ombak
Walau telah terhidang
Masih ku bertanya tentang jawaban atas sepiku

Minggu, 22 Mei 2011

Persinggahan

setelah itu,
kita menantikan racikan dari orang yang sedang meracik kopi
nyala lampu remang membuatmu terasa begitu manis
lalu kau gengam tangan kananmu pada secangkir kopi
penuh harap pada hangatnya
terkadang kau temukan kedua telapak tangamu lalu kau gesekan
malam kian larut, tapi hujan belum juga menunjukan tanda-tanda untuk reda
mari kita menembus rinai hujan ini
membiarkan tubuh kita kembali diguyur hujan
merasakan rasa dalam udara yang semakin dingin
dan biarkan tempat ini, menjadi salah satu tempat persinggahan dalam perjalan kita
lalu kaupun hanya membalas dengan senyum

Kamis, 19 Mei 2011

kala hujan

hujan itu,
mengusik
menarikku untuk menelusuri kembali jejak
sayang, aku hanya menatap di balik jendela
bagaimana denganmu
apakah kau juga merasakannya
membiarkan dirimu basah
atau hanya menatap
kuharap hujan ini bukan hanya suatu persinggahan
lalu berlalu begitu saja